Waspadalah mata juling pada anak

Sebagai orangtua yang memiliki anak balita, pasti khawatir ketika mendapati anaknya tampak juling. Entah juling itu sudah permanen atau hanya tampak sesaat. Namun ada pula yang cuek-cuek saja sehingga pada akhirnya mata juling pada anak balitanya sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Lalu kapankah kita harus waspada ketika mendapati mata anak kita tampak juling?

Perlu kita ketahui, bahwa bayi di usia 3-6 bulan sering tampak tidak fokus dan koordinasi mata kanan dan mata kiri tampak tidak seimbang. Hal ini masih wajar mengingat fokus mata bayi baru mulai optimal di usia ini. Namun jika juling pada bayi bertahan hingga usianya diatas 6 bulan, sebaiknya pertimbangkan ntuk memeriksakannya ke dokter.

sumber foto: pixabay

Selanjutnya aku mau cerita soal mata juling pada anak perempuanku, Jenna. Sebenarnya aku sudah cukup lama sadar bahwa mata Jenna agak juling keluar, mungkin semenjak usianya 1,5 tahun. Tapi karena waktu itu kami lebih fokus sama usaha untuk membuat Jenna bisa berjalan, jadi persoalan mata juling pada anak ini agak sedikit terbengkalai.

Pertama kali kami bawa Jenna periksa ke dokter mata, pas umurnya 3 tahun; langsung ke RS. Mata Cicendo Bandung yang memang dari track record cukup bagus dan jadi rujukan banyak orang bahkan dari luar pulau Jawa. Waktu itu, pemeriksaan tahap pertama Jenna disuruh menebak gambar untuk mengetahui minus matanya, prosesnya kurang lebih sama seperti ketika mata kita akan diperiksa untuk kacamata minus. Namun aku sedikit meragukan hasilnya, karena Jenna benar-benar nggak koperatif. Penyebabnya, perawatnya cowok sedangkan doi paling anti sama orang laki. Jadi diperiksanya sambil dipangku emaknya, itu pun sembari ogah-ogahan dan merajuk pengen pulang.

Proses yang agak bikin emaknya deg-degan adalah saat mata Jenna ditetesin cairan supaya retina matanya terbuka. Deg-degannya bukan apa-apa sih, karena ya itu tadi, karena perawatnya laki-laki, doi pasti nggak mau dipegang. Alhasil, seperti sudah diduga, Jenna jerita-jerit nangis dan berontak nggak karuan pas mau ditetesin cairan mata. Ditambah ternyata si cairan itu perih di mata. Makin menjadi-jadi deh tangisnya. Ditambah juga proses penetesan ini nggak cuma sekali, tapi tiga kali setiap 15 menit sekali. Jadi, lumayan juga rasanya pinggang waktu itu karena mesti gendongin dia hampir sejam biar nggak nangis.

Waktu di RS. Cicendo, kebetulan dokter yang khusus menangani mata juling pada anak sedang tidak ada, jadi digantikan oleh dokter mata umum. Dan, hasilnya memang Jenna ada sedikit juling keluar (eksotropia), namun tidak parah karena jika disuruh fokus, matanya masih bisa kembali ke posisi semula. Hanya saja penyebabnya ini yang masih belum diketahui, apakah memang dari otot mata-nya atau karena syaraf di otaknya (mengingat doi ada riwayat cerebral palsy). 

Akhirnya dokter hanya menyuruh observasi dengan menggunakan kacamata dan diresepkan semacam vitamin mata. Jujur, karena waktu itu aku bener-bener 'bleng' soal per'juling'an ini, aku nggak kepikiran sama sekali mau nanya apa. Alhasil pembicaraan dengan dokter ini berlangsung cukup singkat, hanya sekitar 10 menit saja (agak nyesek sih mengingat perjuangan gendong-gendongnya aja menghabiskan waktu satu jam) -_-;

Dan, setelahnya pun, karena merasa julingnya nggak parah-parah amat dan merasa hasil minusnya kurang akurat, si kacamata ini pun jarang dipakai ^^; (jangan ditiru ya pemirsah). Sampai di usia Jenna yang sudah 4,5 tahun aku baru merasa perlu untuk memeriksakannya lagi. Kali ini inginnya sih benar-benar ke dokter spesialis mata anak. Namun  kali ini, aku browsing-browsing dahulu di forum kaskus dan sempat menemukan sebuah thread yang disebutstrabisclub. Setelah bergabung di grup WhatsApp-nya, aku banyak dapat informasi yang bisa menjadi bahan untuk pertanyaanku ke dokter mata nanti, diantaranya soal penggunaan kacamata prisma untuk mengatasi juling pada anak.

Akhirnya di awal bulan Januari 2017, aku mengambil cuti untuk pergi ke Bandung memeriksakan Jenna lagi (sekalian liburan, sih, hehehe). Kali ini kami ke RS. Borromeous bagian BCMC (Borromeous Children Medical Centre) dengan dr.Irawati Irfani, SpM.,M.Kes

Pintu Masuk BCMC

Pertimbangannya mengajak Jenna kemari dan bukannya ke Cicendo,  untuk membangun susasana yang menyenangkan buat Jenna biar hasil periksanya akurat. Karena di BCMC ini, kliniknya memang di khususkan untuk anak, ruangannya di desain menyenangkan dan ada tempat bermainnya. Jadi, anaknya nggak bosan menunggu. Dan, Alhamdulilah, kali ini perawatnya perempuan. Yang membuat Jenna mau koperatif sejak awal. Dan bahkan doi nggak nangis ketika matanya ditetesin cairan untuk membuka retinanya, "cuma perih sedikit," begitu katanya.
Jenna Membaca Huruf dari Jarak Jauh

Dari pemeriksaan kali,  kami dapat info bahwa juling Jenna tidak bisa menggunakan kacamata prisma karena derajatnya cukup besar, yaitu 30 derajat. sementara penggunaan kacamata prisma hanya untuk juling di bawah 15 derajat. Penanganannya sama, sih, dengan pemeriksaan sebelumnya. Observasi. Jika frekuensi julingnya samakin sering dan semakin permanen, baru akan dipertimbangkan opsi lain. Selain itu Jenna kembali diresepkan kacamata dan vitamin mata. Lalu diminta kontrol kembali setelah 6 bulan pemakaian.

Di BCMC ini nggak banyak foto-foto yang sempat kuambil karena awalnya nggak kepikiran untuk bikin artikelnya. Yang banyak malah poto-poto selfie papanya dan adeknya Jenna. Jadi mesti cukup puas dengan dua foto saja :D 

Oya, kamaren-kemaren sih aku sempat merasa kalau mata Jenna sudah jarang "lari-lari keluar" lagi. Tapi pas kemaren nggak sengaja bikin video dia yang agak close-up ternyata masih agak lumayan kelihatan mata julingnya T_T. 
Sumber : www.saramai.net

No comments

PILIH PLATFORM KOMENTAR DENGAN MENG-KLIK

Powered by Blogger.