Berbagi Kasih Tak Harus Mesti Seiman

Tulisan ini sebenarnya telah lama tersimpan di draft, dan baru hari ini bisa kuselesaikan. Nama mereka sengaja kusamarkan :)
*********************
Septermber 2010
Tanah sekitar Manoa park basah, pertanda hujan baru saja usai. Daerah Manoa , Honolulu memang sering hujan tanpa mengenal musim. Kami baru saja akan meninggalkan tempat parkir menuju tempat pelaksanaan shalat Idul Fitri ketika tiba-tiba sebuah mobil berlogo Shriners Hospitals Honolulu berhenti di depan kami. Sopirnya berwajah Jepang, sementara disisi kanannya duduk seorang gadis berusia sekitar 24 tahun, berjilbab berwajah melayu. Gadis itu mencoba menyapa kami

“excuse me,….”, tapi belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, suami saya langsung menyela
“Can you speak Bahasa?” Mimik muka gadis dalam mobil itu tiba-tiba berubah cerah dan seakan ingin segera melompat keluar dari mobil, bibirnya tak henti mengucap syukur. Setelah sebulan di Honolulu baru kali ini dia bertemu orang Indonesia.
“yahhhh” katanya.
Kami pun berkenalan sambil berjalan menuju tempat pelaksanaan shalat Ied. Sepanjang jalan Nur berkisah pendek mengapa dia bisa sampai di Honolulu. Awalnya kupikir dia mahasiswa yang kuliah di Universitas lain di Honolulu, tapi ternyata Nur ke Honolulu untuk menemani ponakannya yang sedang operasi di Shriners Hospitals Honolulu.

Selepas shalat Ied, aku dan Nur hanya sempat bercerita sedikit ketika tiba-tiba mobil yang tadi mengantarnya sudah datang lagi untuk menjemputnya. Ku berikan nomor cellphoneku pada Nur dan mengajaknya untuk hadir nanti malam di acara dinner lebaran yang di adakan teman-teman muslim di Hale manoa. Dia antusias ingin datang meskipun belum tau arah jalan dan belum tau menggunakan bus sebagai publick transportasi disini.
Sebulan di Honolulu, dia hanya di rumah sakit karena tak tahu harus menemui siapa, mengontak siapa untuk bertemu teman-teman Indonesia di sini.

Jam 6 pm waktu Honolulu, beberapa teman sudah berkumpul di depan lounge 601 Hale Manoa tempat acara Dinner Lebaran akan di adakan. Tapi aku belum melihat Nur, di lobby pun tak tampak. Aku sedikit gelisah, harusnya dia telah tiba sejak 30 menit yang lalu.
Sebelum aku ke Hale Manoa dia sempat meneleponku minta di beri petunjuk bus apa yang dia mesti gunakan dari Shriners Hospitals menuju Hale Manoa di East West Road. Aku menyarankan Nur naik bus jam 5 pm sehingga bisa nyampe Hale Manoa 5.30, telah ku beri tahu juga untuk menungguku di Lobby Hale Manoa.
15 menit menit kemudian dia datang bersama mba Roma, salah seorang mahasiswa Indonesia yang mengambil Master di bidang Urban Planning. Ternyata Nur tiba di Hale Manoa jam 5, dia naik bus lebih awal dari yang aku beritahu. Beruntung karena sopir yang mengantarnya ke tempat shalat Ied pagi tadi juga bersedia mengantarkannya ke bus stop yang lumayan jauh dari rumah sakit tempat ponakannya di rawat.
Sesampainya di Lobby, ada mba Roma yang ngajak Nur jalan-jalan melihat kampus University of Hawaii Manoa. Lega rasanya melihatnya, setidaknya dia tidak kesasar meskipun pertama kalinya jalan sendiri naik bus.

Satu persatu teman-teman mulai datang memenuhi lounge 601, canda tawa, makan bersama, mewarnai acara ini. Bukan hanya kawan sesama muslim tapi juga teman agama lain dai berbagai Negara. disela-sela acara aku mulai bertanya ke Nur tentang kisah ponakannya bernama Andi yang mesti di rawat disini, jauh dari keluarganya di Aceh.
Nur pun cerita
Andi saat itu berusia 3 tahun, dia sedang asyik bermain ketika ibunya yang sedang masak di dapur berteriak karena kompor yang digunakannya memasak tiba-tiba meledak. Andi berlari kedapur karena mendengar suara ibunya menjerit . Celakanya, minyak tanah panas dari kompor meledak tadi tumpah diatas karpet plastik yang ada didapur, Andi yang berusia tiga tahun berlari menemui ibunya menginjak minyak panas ini dan jatuh terpeleset diatas minyak panas. Ibunya tak mampu berbuat apa-apa karena juga terkena minyak panas saat kompor meledak. Andi dan Ibunya segera di larikan ke rumah sakit, dan segera mendapat pengobatan disana.

Andi masih terus menjalani pengobatan, waktu itu rencananya dia akan di operasi senin 27 Desember 2004 di rumah sakit Banda Aceh yang mesti di tempuh sekitar 3-4 jam dari tempat tinggal Andi sekeluarga, tapi malangnya Minggu 26 Desember terjadi Tsunami di Aceh. Meski tak jadi di operasi tapi mereka masih beruntung karena tempat tinggalnya tidak tersentuh tsunami.
Setelah tsunami, Andi hanya mendapat perawatan dirumah karena stuasi Aceh saat itu betul-betul tidak memungkinkan untuk pengobatan yang lebih intensif pada luka bakar Andi. Nur yang saat itu adalah mahasiswa FK di salah satu Universitas di Banda Aceh ikut menjadi volunteer. Dia volunteer sebagai penerjemah dari bahasa Aceh ke Indonesia/Inggris karena banyak korban bencana tsunami yang tidak mampu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia dan menyebabkan para relawan domestic maupun mancanegara sedikit terhambat dalam hal komunikasi, dan dari volunteer ini Nur bertemu dengan seorang dokter yang berasal dari Amerika.

Disela-sela kegiatannya sebagai volunteer, Nur menceritakan kejadian yang menimpa ponakannya pada dokter tersebut. Dan sangat beruntung Andi bisa di operasi di US Naval Hospial Ship, Mercy yang waktu itu juga sedang berada di Aceh untuk bantuan tsunami.
Setelah keadaan Aceh pulih, Nur tidak berhenti bertukar kabar dengan tim dokter yang dulu mengoperasi luka bakar Andi. Dam beberapa tahun kemudian, Andi di operasi lagi di rumah sakit di Boston, US. Pengobatan di Boston selama 3 bulan. Tak ada sereceh pun yang mesti mereka keluarkan, pengurusan tiket pp, visa ke US, pengobatan di RS semua ditangani oleh dokter tsb. Bukan berarti sang dokter itu yang membiayai semua, tapi kemungkinan besar ada donasi yang di kelola oleh sebuah yayasan kesehatan.
Setelah balik ke Aceh, tahun 2010 mereka ke Honolulu untuk operasi lagi. Disini pun mereka tak perlu membayar biaya pengobatan, karena setahu saya shriner hospital ini memang rumah sakit yang didedikasikan untuk pengobatan luka bakar, tulang untuk usia di bawah 18 tahun tanpa biaya.

Menjelang kepulangannya ke Indonesia, aku melihat Andi sudah bisa berjalan meskipun untuk jarak yang tidak terlalu jauh.
Semoga Andi bisa segera kuat kakinya dan bisa berlari bersama teman-teman. Salam kangen dari kami disini
********
Tulisan ini segera kuselesaikan karena sedih dan prihatin dengan 2 kejadian yang baru saja terjadi di negeri tercinta. Karena tak seiman kemudian rusuh, membakar tempat ibadah, memukul bahkan membunuh. Menurutku persoalan keyakinan adalah persoalan personal antara manusia dengan Tuhan-Nya, bukan hak perseorangn ataupun kelompok untuk menghakimi keyakinan orang lain. Damailah Indonesia :)

No comments

PILIH PLATFORM KOMENTAR DENGAN MENG-KLIK BLOGGER,DISQUS ATAU FACEBOOK

Powered by Blogger.