Sepenggal Jejak Si Raja Sisingamangaraja

  • Label:


  • “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan”. Yup, jangan mengaku anak Indonesia kalau tak mengenal sosok pahlawan nasional ini. Beliau telah meninggal puluhan tahun lalu memang, namun jejak peninggalannya masih bisa ditemui dan seolah mengisahkan jalan hidupnya.
    Masih dalam situasi yang sama, yakni pada Napak Tilas Sisingmangaraja XII bersama rombongan Land Rover Club Medan (LRCM), saya akan mengunjungi situs-situs Raja Sisimangaraja, mulai dari Istana Raja Batak hingga berakhir di Makam Raja Sisingamangaraja XII.
    Istana Si Raja Batak dan Parbinsar Mataniari
    Mobil Land Rover yang saya tumpangi terus melaju meninggalkan Menara Pandang Tele. Melewati ratusan pohon pinus yang berbaris indah. Hmm, sesekali kantuk menyapa saya, namun semuanya bisa ditepis dengan pesona pemandangan alam Danau Toba yang Indah. “Siapa sih yang mau melewatkannya?” pikir saya. Tujuan kami sore itu adalah ke salah satu situs sejarah Raja Batak yang cukup terkenal, Batu Hobon namanya. Batu Hobon adalah sebongkah batu yang yang meyimpan misteri. Salah satu yang paling terkenal adalah cerita harta karun. Konon katanya, di dalam batu tersebut tersimpan benda-benda pusaka dan alat-alat musik. Serta diyakini pula kalau di dalamnya terdapat Lak-Lak (sejenis kitab) yang berisi ajaran dan nilai-nilai luhur. Sampai sekarang nggak ada satupun orang yang bisa membuka tutup batu ini. Uniknya di setiap tepi bibir batu ini banyak terdapat puntungan rokok. Ternyata tempat ini juga diyakini bisa mengabulkan keinginan kita jika kita meminta dan meletakkan puntungan rokok di situ. Hujan rintik-rintik menambah suasana mistis malam itu.
    Berjarak setengah kilometer keatasnya, terdapat sebuah bangunan (sopo) yang berisi patung Si Raja Batak dan keturunannya, Sopo Guru Tatea Bulan namanya. Konon dari keturunan Si Raja Batak, berbagai marga (clan) yang terdapat di dalam suku Batak terlahir.
    “Tempat ini memang sengaja kami masukkan dalam list perjalanan kali ini, karena kita juga nggak bisa melompat ke tempat kelahirannya langsung, kita harus cerita dari tempat awal mulanya orang batak yang erat kaitannya dengan Raja Sisingamangaraja,” ujar Erwin, Ketua Panitia Napak Tilas.
    Rombongan bermalam di Menara Pandangan Tele. Sebagian peserta tidur di sebuah ruangan yang disulap menjadi tempat tidur seadaanya dan sebagian lain lebih memilih tidur di dalam mobil. Namun mau tidur dimanapun, tetap saja cuaca dingin terasa menusuk-nusuk tulang saat itu.
    Keesokan harinya bertepatan dengan tanggal kelahiran Sisingamangaraja XII, 17 Juni. Para peserta Napak Tilas berkumpul di balkon gedung tingkat tiga ini sembari menyambut datangnya mentari pagi. Kami duduk terdiam mendengar gondang Parbinsar Mataniari yang dimainkan oleh Irwansyah Harahap, Marsius Sitohang, dan Mark Renner. Saya sendiri memang baru pertama merasakan keadaan seperti ini, begitu damai dan tenang rasanya.
    Saking syahdunya, tanpa terasa perut juga lapar terlebih di udara yang dingin seperti ini. Syukurnya pagi itu, peserta memesan Mie Gomak sebagai santapan bersama. Setelahnya, rombongan langsung bertolak ke Bakkara. Di tempat ini terdapat situs tanah kelahiran para raja dalam trah Singamangaraja dan makam Raja Sisingamangaraja XI. Namun selama perjalanan, kami mampir sebentar ke sebuah sarkopagus yang terletak di Dolok Sanggul yang berjarak sekitar 23 km dari persimpangan Menara Pandang Tele. Sarkopagus ini berisi tulang belulang dari beberapa leluhur Batak yang telah di-mangokkal holi. Di dalam sarkopagus itu, terdapat pula tulang belulang dari abang ipar Raja Sisingamangaraja bernama Malatang Lumban Gaol.
    Situs Istana Raja Sisingamangaraja
    Bakkara, hmm, sebuah daerah yang bukan saja memiliki potensi pemandangan alam yang luar biasa. Kemolekan pemandangan alamnya begitu tersohor hingga ke luar negeri. Bakkara juga menjadi saksi bisu lahirnya trah raja Sisingamangaraja sekaligus menjadi tempat jalannya pemerintahan Raja Sisingamangaraja I-Sisingamangaraja XII.
    Masih di hari kedua, rombongan mendatangi Kompleks Istana Sisingamangaraja yang tepatnya berada di Lumbanraja, Bakkara. Dari luar kita akan disambut oleh dua balai, yaitu balai tempat berkumpul jika ada tamu yang datang dan balai berbentuk segi empat sebagai tempat ibadah yang disebut Balai Pasogit.
    Melangkah masuk ke dalam, kita akan mendapati empat buah Ruma Bolon dan periss di depan rumah bolon ini terdapat sebuah makam berupa bangunan persegi panjang yang terbuat dari semen. Di dindingnya tertata dengan rapi ornamen Batak, ukiran kerajaan Sisingamangaraja, lambang Sisingamangaraja dan sebuah prasasti beraksara Batak. Rombongan melakukan ritual kecil yang merupakan bagian dari ziarah dan penghormatan.
    Sedikit berbicara mengenai kompleks istana Raja Sisingamangaraja. Tempat seluas ±6000 m ini pernah dibumihanguskan Belanda sekitar tahun 1900-an. Namun pemerintah membangun kembali seperti kompleks istana yang asli (replika).
    Jangan buru-buru melangkah keluar kompleks, karena di sini kita masih akan menjumpai satu situs yang cukup unik, Batu Siungkap-ungkapon namanya. Situs batu berdiameter 80-an cm ini konon katanya digunakan pada ritual untuk meramal hal-hal penting, terutama dalam hal pertanian.
    Situs Raja Sisingamangaraja Lainnya
    Masih di daerah Bakkara, perjalanan dilanjutkan ke Tumbak Sulu-sulu. Tempat ini adalah sebuah gua kecil yang letaknya di tengah hutan kecil di pinggiran desa Bakkara. Menurut legenda, di sinilah ibunda Raja Sisingamangaraja bersembunyi ketika beliau mendapat tuduhan dari keluarganya. Salah seorang anggota Napak Tilas, Mark Renner-seorang peneliti musik Batak Toba yang berasal dari Amerika Serikat-memainkan surdam di dalam gua. Suara surdam yang mengalun indah membuat suasana semakin damai dan khitmad.
    Selanjutnya kami singgah ke Mual Sitio-tio dan Aek Sipangolu. Aek Siapangolu diyakini masyarakat sekitar sebagai air mujarab yang dapat menyembuhkan beragam penyakit. Dan konon katanya lagi, Aek Sipangolu adalah bekas tapak kaki gajah Raja Sisingamangaraja.
    Seolah nggak melewatkan kesempatan yang ada, para peserta pun memilih menyegarkan diri di Aek Sipangolu ini. Oh ya, tak jauh dari Aek Sipangolu terdapat satu hariara (sejenis pohon beringin) yang menjulang tinggi. Namanya Hariara Tungkot, yang konon merupakan tongkat Raja Sisingamangaraja yang tertancap.
    Berakhir di Balige
    Tujuan terakhir perjalanan ini adalah ke kompleks makam Raja Sisingamangaraja XII yang terletak di Soposurung Balige. Malam kedua peserta melakukan pentas musik uning-uningan di sebelah makam sang legenda. Penataan panggungnya dikonsep seadaanya namun cukup menarik. Kendaraan Land Rover yang berjejer rapi disulap menjadi bagian tata panggung sehingga pancaran cahaya dari Land Rover seolah menjadi lighting panggung sederhana ini.
    Sepatah renungan dari salah seorang keturunan Raja Sisingamangaraja XII, Raja Tonggo Tua Sinambela menjadi pembuka pentas musik ini. Permainan sulim oleh Marsius Sitohang mengiringi pembacaan puisi MJA Nashir. Acara dilanjutkan dengan permaian musik gondang oleh Marsius Sitohang, Mark Renner, dan Irwansyah Harahap pun mengalun syahdu. Beberapa masyarakat yang tinggal di sekitar makam juga datang untuk melihat uning-uningan yang dihelat seadanya ini. Acara yang berlangsung sejak jam 9 malam ini juga dimeriahkan dengan acara Martumba (menari bersama) oleh peserta Napak Tilas dan beberapa orang yang turut hadir di sana.
    “Acara ini sebagai perenungan dari kehidupan orang Batak untuk membangkitkan kembali identitas kita sebagai orang batak,” cerita Irwansyah Harahap.
    Hari ketiga adalah akhir dari perjalanan kami. Pagi hari semua peserta berkumpul dan bersiap untuk berziarah. Peziarah perempuan sebaiknya memakai kain sebagai simbol penghormatan, dan ketika memasuki area makam, diharapkan untuk melepas alas kaki.
    Bangunan merah yang berdiri kokoh adalah makan Raja Sisingamangaraja XII. Makam beliau diapait oleh makam kedua putranya yang juga gugur bersamanya bernama Raja Patuan Nagari dan Raja Patuan Anggi. Di belakang makam beliau terdapat satu bangunan makam lagi. Ini adalah makam istri, saudara dan putri beliau bernama Lopian Br. Sinambela yang juga gugur dipelukanya saat melawan Belanda.
    Sebelum memasuki area makam, peserta diberi sehelai daun sirih, dan sedikit pengarahan serta perenungan oleh penjaga makam. Keadaan tenang, sepertinya masing-masing dari kami memanjatkan doa kepada sang khalik untuk Pahlawan Nasional ini.
    Menjelang siang hari, kamipun berjalan pulang meninggalkan kompleks makam. Saya pikir perjalanan sudah berakhir di makam saja, ternyata masih ada satu situs lagi yang kami kunjungi. Tempat ini adalah desa Hutatinngi Laguboti yang merupakan situs peninggalan ajaran spiritual Raja Sisingamangaraja bernama ugamo Parmalim.
    ***
    Sungguh perjalanan yang berkesan, selain memanjakan mata akan pemandangannya yang super keren, saya juga bisa memaknai arti perjuangan Raja Sisingamangaraja. Perjalanan napak tilas memperingati 103 tahun gugurnya Sisingamangaraja XII ini seperti pengantar bagi saya untuk mengetetahui lebih dalam tentang sejarah dan budaya Indonesia.
    sumber:http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/19/sepenggal-jejak-si-raja-sisingamangaraja/-12


    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
     
    DAPATKAN ARTIKEL TERBARU DI FACEBOOK.GABUNG DI KOMUNITAS KITA (BLOGNYA SI JAIT) LAPAK INFO
    FOLLOW JUGA : @LAPAK_INFO