persaingan blackerry dan nokia

Kehadiran perangkat kecil berwarna hitam (akhir-akhir ini ada yang hadir dalam warna putih) seakan mengubah gaya hidup sebagian masyarakat di Tanah Air. Ya, BlackBerry yang mengandalkan BlackBerry Internet Service (BIS) dengan fitur unggulan push e-mail dan BlackBerry Messenger (BBM) seperti menyihir dunia, tak terkecuali Indonesia . Aplikasi sederhana messenger Blackberry yang dalam pembuatannya mungkin bila ditiru oleh anak bangsa hanya menelan ratusan juta rupiah benar-benar merebut perhatian masyarakat pengguna telekomunikasi, bahkan pengguna smartphone sekali pun.
Keunggulan aplikasi BBM membuat booming perangkat BlackBerry menerobos kemapanan Pesaing sekelas Nokia serta menurunkan Image Pengguna akan Eksklusifitas Nokia.  Aplikasi serupa sebenarnya sudah dicoba ditanamkan dalam produk lainnya seperti Nexian atau produk Messenger yang banyak ditawarkan operator lokal.
Namun karena momentum aplikasi serta  jaringan yang sudah sangat luas, membuat aplikasi BlackBerry Messenger tak tergantikan untuk sementara. Demam Blackberry di Tanah Air tampaknya kian tak tertahankan. Laju penjualannya terus melesat, dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna BlackBerry tertinggi di dunia. Booming BlackBerry di Indonesia ternyata membawa implikasi jatuhnya pamor Nokia, yang sebelumnya sangat menguasai pasar di Tanah Air. Inovasi Nokia yang sangat signifikan ternyata kalah hanya oleh suatu aplikasi sederhana, yang sebenarnya anak bangsa juga sudah bisa membuatnya, yaitu BBM (Blackberry Messenger).
Produk smartphone keluaran Nokia seperti tersandung, dan pasarnya tergerus oleh smartphone keluaran Research in Motion (RIM). Apabila fenomena tersebut terus berlangsung, maka produk smartphone Nokia diyakini lama-lama akan sulit merajai kembali pasar, apalagi BlackBerry terus menelorkan inovasi dalam produk-produk terbarunya, terutama dalam hal kemudahan penggunaan aplikasi chatting lainnya, seperti Yahoo Messenger dan Google Talk serta upload ke jejaring social yang marak saat bersamaan kelahiran Blackberry ke Tanah air ditambah lagi kemudahan dalam sistem pembayaran yang semakin murah.
Apabila Nokia tidak juga berbenah terutama dalam perang inovasi dan aplikasi yang sengit bukan lagi perang mengandalkan teknologi tinggi ( hi-tech), maka produk asal Finlandia itu harus melupakan mimpinya untuk terus menguasai pasar ponsel di Indonesia. Selain aplikasi BBM dan push e-mail, sebenarnya ada dua faktor utama yang berperan dalam melambungnya produk BlackBerry tersebut, yaitu produk yang inovatif dengan desain amat elegan dengan penempatan keyboard-nya yang sangat ergonomis dan teknologi browsing-nya yang user friendly, hanya cukup menekan satu tombol saja. Desainnya juga sangat cantik membuat produk smartphone Nokia Communicator menjadi terlihat sangat jadul.
Aplikasi lain yang menjadi keunggulan BlackBerry adalah system full backup/recover sebagian maupun sepenuhnya mempermudah pengguna dalam mem-backup data-data penting. Ketika mengganti unit blackberry baru, pengguna juga cukup menggunakan fungsi change device dan data-data penting beserta setting dan 3rd party software (jika compatible) ter-copy dengan mudah ke device BlackBerry baru. Profile pada BlackBerry juga sangat fleksibel, untuk setiap account email, sms, mms, phone, facebook, dan lainnya dapat diatur ringtone/vibrate dan led sign-nya.
Fungsi BBM yang mampu membuat chatting kita nyaman dengan tidak hanya menyediakan fungsi chatt type, namun juga send type dan rekaman sebesar 10Kb – membantu sekali saat sedang tidak bisa mengetik pesan dan tinggal merekam ucapan sekitar lima detik dan mengirimkan kepada lawan chat kita. Pada fungsi baru di OS versi 5.0 bahkan terintegrasi dengan fungsi SMS dan dapat mengirimkan pesan lokasi dlsb.
Meski ada begitu banyak keunggulan, BlackBerry juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya belum (hingga tulisan ini ditulis) mendukung conference call, seluruh 3rd party software terinstall bersama pada memory internal, sehingga dengan memory internal (RAM) BlackBerry yang terbatas, tidak banyak software 3rd party yang dapat diinstall (terutama pada blackberry type lama), meskipun sudah tersedia software yang dapat memindahkan instalasi 3rd party software pada memory card-saat digunakan program 3rd party tetap di load di internal memory (RAM).
Synchronisasi antara email di blackberry dan server, terutama untuk email yang sudah kita delete di BlackBerry sering tidak bekerja dengan baik, sehingga sering kali email yang sudah kita delete di blackberry dan kita purge serta reconsile (dari menu Reconsile), tetap tertarik di mail client PC/Laptop kita, tentunya hal ini menjengkelkan karena kita harus memeriksa kembali mana email yang harus di delete kembali maupun yang tidak kita delete di BlackBerry untuk kita arsipkan di mail client PC/Laptop kita.
Selain itu, browser bawaan BlackBerry tidak sempurna menampilkan webpage ber-javascript dan animasi, bagi yang ingin menggunakan klikbca.com misalnya, harus menggunakan 3rd party software MiniOpera untuk mengatasi masalah ini.
Aspek Ketergantungan
Faktor lain yang tak kalah penting dalam melambungkan pasar BlackBerry adalah karena adanya aspek ketergantungan dan jalinan networking yang tanpa terasa menjadikan penggunanya seperti bergantung dan tidak bisa lepas sama sekali dari perangkat tersebut.
Aspek networking yang disihir melalui BBM itu lah yang menjadikan seseorang harus memiliki BlackBerry agar bisa menjalin komunikasi dengan relasi lain yang juga menggunakan BlackBerry, karena SMS, yang banyak digunakan melalui Nokia dan ponsel ‘konvensional’ lainnya relatif lebih mahal, sedangkan BBM dapat digunakan gratis sepuasnya dan hanya membayar Rp100.000-Rp150.000 setiap bulannya.
Faktor lainnya adalah adanya stigma seseorang akan ketinggalan zaman apabila belum menggunakan BlackBerry. Hal ini sebenarnya merupakan promosi gratis bagi vendor asal Kanada tersebut, karena banyak memunculkan jutaan sales BlackBerry yang mempengaruhi teman dan keluarganya sekali lagi karena agar bisa terhubung dengan aplikasi messenger Blackberry.
Efek semacam ini pelan-pelan bergerak seperti bola salju dan pada titik tertentu, akan menciptakan momentum ledakan penjualan. Ini tentu berbeda dengan smartphone Nokia yang jor-joran mengeluarkan puluhan miliar rupiah untuk mengiklankan produknya dimana-mana meski hasilnya untuk pasang iklan dimana-mana, namun hasilnya tak juga maksimal. Menyadari serbuan BB yang kian tak tertahankan, Nokia mencoba merilis seri E, yang merupakan rangkaian produk smartphone dengan beragam keunggulan. Namun sayang, laju penjualannya tak juga maksimal. Tren diatas tak pelak telah membuat Nokia segera berbenah, sebab jika mereka terus gagal membalikkan tren itu, maka masa depan mereka benar-benar berada dalam kekelaman. Sebab pada sisi lain, secara global Nokia juga harus menahan laju produk dahsyat lainnya, yakni iPhone dari Apple yang juga terus menggerus pangsa pasar Nokia.
Serangkaian kisah di atas tampaknya kian menegaskan arti penting inovasi serta Killer application  atau aplikasi unggulan yang bisa diterima masyarakat kita dari sekedar mengandalkan teknologi Tinggi (Hi-tech).
Perang Aplikasi dan Content
Dari pengalaman diatas kita dapat belajar bahwa Anak bangsa punya peluang besar dalam Industri Kreatif berbasis Teknologi informasi ..dimana satu aplikasi unggulan saja yang disukai masyarakat akan membuat kita sukses bahkan bisa merajai dan mengalahkan para Industrialis teknologi sekalipun sekelas Nokia’ yang tidak pernah terbayangkan sebelum nya pada era sebelum Booming Internet.
Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan satu aplikasi unggulan seperti, Facebook,twitter, yahoo messenger, blackberry messenger serta buatan anak bangsa seperti portal detik,kaskus,koprol..akan jauh lebih murah daripada membangun Pabrik ‘Handphone’ bahkan lebih murah dari distributor Handphone apalagi industri diluar teknologi yang semakin kita ketinggalan melawan Negara-negara Asia lain nya. Bahwa sudah saat nya pemerintah terbuka matanya untuk membangun kawasan Industri Aplikasi atau content sama penting nya kalo tidak mau dibilang extreme lebih baik daripada terlalu banyak kawasan industri yang berbiaya mahal namun impact nya tidak se-Masif kawasan industri aplikasi/content.
Dan mudah-mudahan kita tidak sekali lagi ketinggalan membangun industri kreatif basis teknologi ini seperti media audio Visual kita sudah mulai di serbu produk korea , India ,bahkan Malaysia dengan ‘Upin & Ipin nya’. Dan memang Sulit bagi Pemerintahan sekarang karena mereka yang terpilih hampir sebagian besar kelompok Gatek en Jadul ( Gagal teknologi en Jaman Dulu ) kalo mengambil istilah bahasa anak muda sekarang sehingga sulit bagi beliau yang menjabat untuk sekedar memahami saja..jangankan bertindak Cepat..dan mudah-mudahan itu hanya kegelisahan penulis saja bukan kondisi yang sebenar nya terjadi di Negara kita yang tercinta Ini.
Share:
Powered by Blogger.

Blog Archive