penemuan Vaksin Efektif untuk TB


Sebuah vaksin yang efektif untuk melawan tuberculosis (TB) sebelum dan sesudah penyakit itu menginfeksi tubuh sedang dikembangkan oleh sekelompok ilmuwan di Statens Serum Institute, Copenhagen, Denmark.
 

Bakteri penyebab TB bisa bersembunyi di dalam tubuh selama bertahun-tahun. (doc Corbis)

Seperti diketahui TB merupakan wabah yang menyasar orang-orang yang tinggal di negara-negara berkembang, di mana antibiotik tidak tersedia secara cukup untuk diberikan pada jutaan orang yang sudah terinfeksi.

Meski demikian, secara mengejutkan, TB juga menunjukkan peningkatan tajam di sejumlah negara maju, misalnya seperti di Inggris. Sebanyak 9.000 kasus TB muncul di tahun 2009. Ini memicu The Health Protection Agency untuk mencari obat untuk menangkal TB.

TB sendiri merupakan penyakit paru-paru dengan batuk, sakit di dada, dan hilangnya berat badan yang menjadi ciri-cirinya. Setelah menyerang, bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menjadi penyebab TB akan terus bersembunyi di dalam tubuh manusia.

Pada masa persembunyian inilah bakteri bisa menjadi kebal terhadap vaksin. Ia bersiap untuk melakukan reaktivasi diri setelah efek vaksin itu hilang. Reaktivasi itu sendiri bisa terjadi meski setelah beberapa dekade ia bersembunyi di dalam tubuh.

Vaksin BCG, yang biasa digunakan sebagai imunisasi hanya efektif jika ia disuntikkan sebelum bakteri itu menyerang tubuh.

Meski demikian, seperti dikutip dari Medindia, 25 Januari 2011, vaksin baru yang dibuat mengombinasikan protein yang mampu memicu respons kekebalan baik terhadap Mycobacterium yang sedang aktif ataupun sedang bersembunyi.

Kemanjuran vaksi ini sendiri sudah lama ditunggu-tunggu oleh pasien penderita AIDS yang menghadapi ancaman kematian jika TB menyerang karena kekebalan tubuh mereka sudah dihancurkan.

“Vaksin yang mampu melindungi terhadap infeksi awal dan juga melindungi secara jangka panjang merupakan terobosan penting,” kata Peter Davies, profesor yang juga wakil dari tim TB Alert tersebut. Laporan seputar temuan vaksin ini sendiri dipublikasikan di jurnal Nature Medicine.

No comments

PILIH PLATFORM KOMENTAR DENGAN MENG-KLIK BLOGGER,DISQUS ATAU FACEBOOK

Powered by Blogger.